Ikhlas, Kunci Hidup
Ikhlas adalah Kunci Hidup
Hikmah, seperti halnya rezeki, bisa datang dari mana saja, dari arah yang tak disangka-sangka. Dan bagi Tia Setiati Mahatmi, salah satu sekretaris Badan Pengurus Harian Masyarakat Ekonomi Syariah (MES), hikmah itu datang melalui anaknya, Mahendra Anindito yang akrab dipanggil Dito.
Tak ingin anaknya salah gaul, Tia memasukkan sulungnya itu ke sebuah sekolah bernafaskan Islam berasrama di Cikarang, Jawa Barat. Tujuannya hanya satu, dengan tinggal di asrama dan didikan agama yang baik, Dito lebih terawasi. Tak lebih. Bahwa sekolah itu adalah sekolah Islam bertaraf internasional, itu catatan lain.
Di luar dugaan, tak hanya pergaulannya yang terjaga, tapi juga ibadahnya. Waktu kali pertama pulang, Tia terkaget-kaget dengan Dito yang minta dibangunkan pagi buta. Maka dia spontan bertanya, ”Mau apa bangun pagi-pagi?” Ternyata, selama di asrama Dito membiasakan diri shalat subuh tepat waktu. Subhanallah.
Suatu saat, perempuan kelahiran Jakarta, 17 Januari 1968 ini mengajak Dito belanja di sebuah mal di Jakarta. Mendekati pukul 18.00 WIB, dia mengajak putranya pulang. Dito menolak karena sebentar waktu shalat Maghrib tiba. Tapi Tia bersikeras mengajaknya pulang. Dalam pikiran Tia, jarak Kelapa Gading sampai Matraman rumahnya tak seberapa jauh. ”Maghrib di rumah saja,” ujarnya.
Dan, nyatanya, perjalanan Kelapa Gading-Matraman macet total. Waktu tempuh yang diperkirakan hanya 15 menit, ternyata hampir satu jam. Dito ngambek. ”Tuh kan, Ma? Udah jam berapa nih sekarang?” ungkap Dito penuh kesal.
Tia kaget ditegur sang anak. Namun jujur, dia bahagia dengan teguran itu. Sejak itu, dia mengikuti ‘ilmu’ sang anak, ”Tak ada tawar-menawar dalam urusan shalat.”
Ilmu itu diteruskan pada anak buahnya di perusahaan yang didirikannya, Tribuana Cahya Ananta. Ketika masuk waktu shalat, semua saling mengingatkan untuk meninggalkan pekerjaannya sejenak dan melakukan shalat. ”Ibu akan marah kalau pukul 12.00 siang masih ada pria di kantor, tidak segera ke masjid untuk shalat Jumat,” ujar seorang pegawainya.
Tia meninggalkan zona nyaman sebagai general manager di sebuah perusahaan ritel papan atas untuk menekuni bisnis sendiri. Tahun 1996, ia mendirikan bendera Tribuana Cahya Ananta yang kini merambah usaha mulai event organizer hingga penerbitan. ”Saya juga senang melihat orang tertawa,” ujarnya setengah bercanda, tentang keputusannya merintis bisnis sendiri.
Itu sebabnya, ia membangun usaha dengan kebersamaan. Masing-masing karyawan mempunyai rasa tanggung jawab yang sama sesuai bidang masing-masing untuk turut membesarkan usaha. Imbal baliknya, ia memberi penghargaan yang sepadan. ”Kalau orang lain bahagia karena kita yang membuatnya seperti itu, senangnya bukan main,” ungkap ibu tiga putera ini.
Bidang usaha yang digelutinya kali pertama, menurut wanita yang tengah menyelesaikan program S3 bidang syariah di Universitas Trisakti ini, adalah bidang agensi iklan. Awalnya hanya agensi kecil-kecilan, bergerak di bidang komunikasi. Kemudian merambah TV iklan di Garuda yang dimulai sejak 1997 dan event organizer. Sejak tahun 2003, ia membuka sekolah terpadu.
Menurut Tia, usahanya menjadi lancar karena ada campur tangan Allah. ”Saya merasa pertolongan Allah kepada kami tidak pernah berhenti. Selalu ada jalan dalam kesulitan apa pun,” ujarnya.
Layaknya sebuah usaha, pasang-surut pasti terjadi. Namun ikhlas menjadi kuncinya. ”Kalau kita ikhlas, maka apapun yang datang pada kita, menyenangkan atau tidak, kita terima dengan rasa syukur,” ujarnya.
Cobaan berat pernah terjadi di tahun kedua dia membuka usaha. Saat itu, badai krisis moneter melanda semua lini, tak terkecuali usahanya. ”Ketika itu saya dihadapkan satu dilema untuk menutup usaha atau melanjutkannya,” ujar perempuan yang kerap menjadi dosen tamu mata kuliah entrepreneur di berbagai perguruan tinggi ini.
Bayangkan saja, untuk memenuhi hak karyawan atas gaji dan THR, ia harus melego seluruh koleksi perhiasannya. Ia mengaku, tak pernah terpikir untuk mengingkari hak karyawan atas jerih payahnya dengan alasan klise, misalnya, ”maaf, perusahaan sedang payah akibat krisis ekonomi,” atau kalimat permakluman sejenisnya.
”Saya sangat yakin, pertolongan Allah tak akan pernah berhenti kepada manusia yang ikhlas menolong orang lain. Dan keyakinan itu bukan keyakinan kosong belaka, karena sedikit demi sedikit, usaha saya bangkit lagi, bahkan lebih maju dari sebelumnya, Alhamdulillah,” paparnya.
Tia bersyukur, sejak tiga tahun lalu mampu memberangkatkan karyawannya berumrah sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT atas rizki dan karunia-Nya terhadap perusahaan. Tiap bulan, ada minimal satu karyawannya dari level manapun, yang berangkat ke Tanah Suci untuk melaksanakan umrah setiap tahun. ”Insya Allah program ini bisa terus berjalan setiap tahun,” tambahnya.
Belakangan, ia merangkai satu demi satu kebenaran ajaran agamanya. Soal rezeki yang dimudahkan, ia menemukan jawabannya dalam hadis yang dibacanya beberapa tahun kemudian. ”Nabi Muhammad SAW pernah bersabda yang intinya, Allah SWT akan membukakan pintu rezeki sembilan kali lipat lebih besar kepada seorang entrepeneur,” ujarnya.dam
Tidak ada komentar:
Posting Komentar